Mebangun Pola Kaderisasi PMII Hasyim Asy’ari UNY
Oleh Muslim Fidia Atmaja
Pola Pengkaderan sangat penting dalam proses kaderisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Hasyim Asy’ari UNY, mengingat perjuangan jangka pendek terlebih jangka panjangnya. Seperti namanya “pergerakan” tanpa adanya kaderisasi yang baik tidak akan ada akibat yang baik dan dinamis pula dalam sistem organisasinya.
Tidak hanya skala mikro sebatas dalam organisasi, mengingat ngendikanipun Bung Hatta pernah bertutur mengenai kaderisasi, “Bahwa kaderisasi sama artinya dengan menanam bibit. Untuk menghasilkan pemimpin bangsa di masa depan, pemimpin pada masanya harus menanam!”. Proses kaderisasi yang baik di lingkungan PMII Hasyim Asy’ari akan mempengaruhi kebaikan perkembangan bangsa, secara Kampus UNY mengunggulkan dalam kontek pendidikan yang akan mempengaruhi supply perkembangan ideologi suatu negara dengan sistem pendidikan tersebut.
Dikutip dari berita nu.or.id yang ditulis Eko ketua PMII UNILA bahwa Dalam kaderisasi ada dua ikon penting yaitu :
1. Pelaku Kaderisasi (subyek)
2. Sususnan Kaderisasi (obyek)
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) fungsi dasarnya adalah kaderisasi, sesuai dengan tugas PMII “terbentuknya pribadi muslim yang bertakwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, cakap dan bertanggungjawab, mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia (Tujuan PMII, Pasal 4 AD/ART).
Pola kaderisai PMII memiliki karakter dan karakteristik yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi lingkungan dan situasi karakter mahasiswa pada jenis lembaga serta fakultas tertentu. Oleh karena itu pemahaman tentang teritorial PMII sangat perlu untuk ditanamkan. Berangkat dari pemahaman tersebut, pengurus komisariat maupun pengurus rayon memiliki kultur dan tantangan yang lebih kompleks dibandingkan dengan yang ada pada kampus-kampus yang berlatar belakang Islam.
Keberagaman latar belakang kultur mahasiswa di kampus umum serta padatnya waktu kuliah menjadi tantangan yang berat bagi PMII kampus umum. Untuk itu diperlukan formulasi kaderisasi yang matang agar tetap mampu bertahan di tengah kondisi kampus yang heterogen. Banyak jumlah kajian keilmuan di kampus umum dengan berbagai fakultas yang mempelajari disiplin ilmu dapat dijadikan modal untuk memaksimalkan pengembangan potensi kader sesuai dengan budaya masing-masing. Melalui pengembangan potensi tersebut makan akan tercipta kader-kader PMII yang layak dan kondusif untuk di tempatkan pada lini-lini yang terdapat di tiap lembaga kampus.
Dalam segi internal PMII, problem yang menjadi penyebab kurang hafalnya suatu kaderisasi adalah tidak adanya ruang sebagai media aktualisai bagi anggota maupun kader yang telah demisioner sebagai pengurus PMII sehingga tidak ada sinergitas bagi mereka terhadap fungsi kaderisasi. Perlu adanya ruang untuk meyakinkan para pengurus demosioner agar tidak lepas peran dan fungsi terhadap kaderisasi.
Penanaman nilai-nilai keislaman dan pemahaman ke-PMII-an harus disesuaikan dengan proses melalui ruang kaderisasi nonformal dan ruang kultural yang ada agar nilai dan pemahaman tersebut dapat disampaikan baik secara tekstual ataupun nontekstual. Kaderisasi nonformal bertujuan untuk membekali kader dengan pengetahuan dan keterampilan spesifik yang dibutuhkan oleh kader, maka output yang dihasilkan pada ruang kaderisasi ini terhadap pemahaman ke-PMII-an adalah meluluskan kader-kader yang ulil albab. Dalam pemahaman nilai-nilai keislaman, yang kultural yang ada merupakan pusat produksi ASWAJA sebagai manhaj al-fiqr PMII. Ruang kultur sangatlah penting mengingat kampus umum sangat kering keagamaannya.
Menyalurkan kaderisasi tentu butuh yang namanya “ritual” agar tercipta sebuah kesinambungan gerakan. Selain itu perlu adanya inovasi dan kreativitas dalam berpikir menjalankan kaderisasi agar kaderisasi yang dilakukan tepat sasaran. Tujuan lebih kepada aspek kuantitas contohnya sebelum melakukan Mapaba perlu adanya sebuah kegiatan pra-Mapaba yang bertujuan untuk pendalaman emosial dan pengenalan PMII kepada sasaran biasanya mahasiswa baru.
Kader yang sudah alumni tentunya perlu pemetaan dan pendataan yang di databasekan walaupun tersebar di berbagai pelosok nusantara maupun global, baik sebagai pejabat, pengusaha, politisi, akademisi dan sebagainya. Karena itu memberingan potensi penunjang proses pengkaderan asalkan ada sinergisitas dari berbagai hubungan tersebut.
PMII HA era sekarang ini juga diharuskan kreatif untuk menghindarkan kejenuhan dan monoton dalam pergerakan yaitu penyebabnya adalah perumusan formula kaderisasi yang belum tepat sasaran, kalau tidak hati-hati akan berdampak pada vakumnya PMII HA. Dengan cara menghargai dinamika untuk diharmonisasikan dengan puncak kejayaan-kejayaan PMII di masa sebelumnya.
Dapat dipahami bahwa kaderisasi memiliki tugas atau tujuan sebagai proses humanisasi atau pemanusiaan/memanusiakan. Manusia yang bertakwa kepada Allah SWT, manusia yang beriman, manusia yang selalu mengingat Allah SWT di setiap saat, manusia yang setia dengan janji Allah SWT dan tidak melanggar perjanjian dengan-Nya, manusia yang mengambil pelajaran dari sejarah umat manusia, perjalanan alam semesta dan dari ayat-ayat-Nya sehingga dapat melaksanakan tujuan PMII.
Sebaga point akhir bahwa kaderisasi dilingkungan PMII HA harus terus meningkat secara kualitas maupun kuantitas dan selau bersinergis dengan berbagai pihak yang dapat memajukan termasuk adanya wadah yang menciptakan alumni menghargai kader dan kader menghormati alumni, dengan cara perekrutan kader sebanyak-banyaknya kemudian terjadinya harmonisasi sahabat yang akan membentuk dinamika dan dialektika sehingga terjadilah pemikiran-pemikiran merdeka yang akan memperbaiki terus menerus kaderisasi PMII HA yang didasarkan pada tataran sosialitas tinggi demi terwujudnya bangsa yang paripurna. (mfa)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar